TANGERANGBERKABAR.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang memastikan bahwa penanganan penyakit kusta di wilayahnya telah masuk dalam skala prioritas pembangunan daerah. Langkah ini menjadi jawaban atas instruksi keras Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang meminta seluruh kepala daerah berkomitmen penuh dan tidak sekadar menjadikan eliminasi kusta sebagai agenda seremonial belaka.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, menegaskan bahwa keseriusan pimpinan daerah dalam memprioritaskan penanganan kusta telah dikunci melalui kebijakan formal sejak tahun lalu.

“Di Kabupaten Tangerang, penanganan kusta ini sudah menjadi program prioritas kami. Ini dibuktikan dengan adanya Komitmen Bupati terkait Percepatan Eliminasi Kusta yang sudah ditandatangani sejak 7 Juli 2025 lalu,” ujar dr. Hendra saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026).

dr. Hendra memaparkan, komitmen politik tersebut diturunkan ke dalam serangkaian manajemen taktis di lapangan, mulai dari pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor pada Oktober 2025 hingga sosialisasi kebijakan penanganan kusta secara menyeluruh pada November 2025.

IMG 20260714 WA0020

Keseriusan ini diperkuat dengan penerapan delapan kegiatan strategis di tingkat akar rumput guna menjaring kasus secara riil. Beberapa di antaranya meliputi pencarian kasus aktif di 29 kecamatan, peningkatan kapasitas kader kesehatan komunitas untuk deteksi dini, pelibatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), pembentukan Kelompok Perawatan Diri (KPD), hingga pemberian obat pencegahan (khemoprofilaksis) bagi kontak erat penderita.

Sebagai hasil dari masifnya program prioritas pencarian aktif tersebut, Dinkes Kabupaten Tangerang melansir data capaian surveilans sepanjang semester pertama tahun ini (Januari–Juni 2026). Total akumulasi temuan di Kabupaten Tangerang tercatat mencapai 264 kasus, yang terdiri atas 243 temuan kasus baru dan 21 kasus ulang.

Berdasarkan pemetaan wilayah, Kecamatan Teluknaga menjadi area dengan temuan tertinggi yaitu 56 kasus baru dan 4 kasus ulang, disusul Kecamatan Cisoka dengan 26 kasus baru, dan Kecamatan Pakuhaji dengan 16 kasus baru. Sementara itu, wilayah Kecamatan Jambe dan Kronjo berhasil mencatatkan nihil temuan (0 kasus). Menurut dr. Hendra, tingginya angka di beberapa zona merah tersebut justru menjadi bukti bahwa kader di lapangan bekerja aktif membongkar fenomena gunung es di tengah masyarakat.

Kendati program penemuan kasus berjalan agresif, dr. Hendra mengakui tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah memutus rantai stigma negatif dan diskriminasi sosial yang dialami penderita, baik dari tetangga maupun keluarga.

“Stigma negatif ini memang tantangan kita bersama. Strategi dari Dinkes adalah terus menggencarkan edukasi ke masyarakat. Penyuluhan ini kami lakukan secara masif dan berjenjang lewat Puskesmas, pihak kecamatan, hingga menyentuh tingkat desa dan kelurahan agar warga tidak lagi panik atau mengucilkan pasien,” jelasnya.

Menutup keterangannya, dr. Hendra mengimbau warga agar tidak ragu mengakses fasilitas kesehatan karena penyakit lepra atau kusta yang disebabkan bakteri ini dapat disembuhkan total secara medis.

“Untuk masyarakat tidak perlu khawatir. Kami pastikan akses obat-obatan di seluruh Puskesmas kita di Kabupaten Tangerang ketersediaannya sangat cukup dan semuanya diberikan secara gratis,” pungkas dr. Hendra.

(Der)