TANGERANGBERKABAR.CO.ID – Investigasi kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, mengungkap fakta baru. Jumlah korban kini tercatat sebanyak 33 siswa, yang berasal dari SMP At-Toyibah dan SMPN 1 Kronjo. Dua di antaranya bahkan harus menjalani rawat inap intensif akibat kondisi fisik yang menurun drastis.

Camat Kronjo, Mumu Mukhlis, mengonfirmasi bahwa berdasarkan laporan resmi tim investigasi pada Jumat (1/5/2026), insiden yang terjadi pada Rabu (29/4) tersebut diduga kuat dipicu oleh menu makaroni yang telah basi dan berlendir saat didistribusikan pada tahap ketiga.

“Sebanyak 31 anak menjalani rawat jalan, sementara 2 siswa lainnya harus mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Kronjo dan Klinik dr. Acih Cayur,” jelas Mumu mengutip laporan investigasi SPPG Cirumpak.

Temuan di lapangan menunjukkan adanya kesalahan fatal dalam prosedur pengolahan. Makaroni yang menjadi bagian dari menu bakso asam manis, tahu, dan melon tersebut, diketahui telah direbus terlalu cepat (di bawah pukul 22.00 WIB) pada Selasa malam.

Kondisi makaroni yang overcook (terlalu matang) dan didiamkan terlalu lama dalam suhu ruang menyebabkan tekstur makanan rusak dan berlendir saat sampai ke tangan siswa pada pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Meski uji organoleptik oleh ahli gizi pada pukul 05.00 WIB menyatakan layak, kualitas makanan menurun drastis pada saat distribusi tahap ketiga.

Menanggapi temuan bahwa dapur pengolahan di Kampung Cirumpak tersebut ternyata belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan fasilitas blower yang tidak standar, Aktivis Tangerang Aziz Patiwara kembali angkat bicara dengan nada keras.

“Ini gila. Bagaimana mungkin proyek strategis nasional seperti MBG dikelola oleh vendor yang bahkan tidak punya Sertifikat Laik Higiene? Ini bukan cuma soal makaroni basi, ini soal legalitas dan standar keselamatan yang ditabrak,” tegas Aziz.

Aziz menekankan bahwa temuan ini memperkuat indikasi adanya unsur pidana dalam pengelolaan dapur tersebut. Menurutnya, pemilik dapur, asisten lapangan, hingga ahli gizi harus bertanggung jawab penuh atas kelalaian administrasi dan teknis ini.

“Fakta bahwa makanan tetap dibagikan padahal sudah berbau dan berlendir adalah bukti tidak adanya fungsi kontrol. Korcam BGN Kecamatan Kronjo juga harus dicopot karena membiarkan dapur tanpa SLHS beroperasi mendistribusikan makanan ke sekolah-sekolah,” tambahnya.

Buntut dari insiden ini, otoritas setempat mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara seluruh aktivitas produksi di dapur SPPG Cirumpak.

“Produksi dihentikan sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Labkesda,” ungkap Camat Mumu Mukhlis.

Pihak manajemen penyedia makanan juga diwajibkan melakukan perombakan total terhadap SOP pengolahan, termasuk instruksi memasak di atas pukul 01.00 WIB demi menjaga kesegaran pangan. Hingga berita ini diturunkan, sebagian besar siswa dilaporkan telah membaik dan kembali ke rumah masing-masing setelah menjalani observasi medis.

(Der)