TANGERANGBERKABAR.CO.ID, PALANGKA RAYA – Di tengah arus perubahan sosial-ekonomi yang serba cepat, kompetisi global, hingga ancaman krisis moral di era disrupsi, institusi pendidikan tinggi dihadapkan pada tantangan besar. Kampus tidak lagi cukup sekadar berdiri sebagai menara gading tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan harus bertransformasi menjadi jangkar peradaban.

Visi besar inilah yang terus dihidupkan oleh Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag. Sosok intelektual Muslim moderat sekaligus akademisi terkemuka di Kalimantan Tengah ini meyakini bahwa kepemimpinan akademik bukan sekadar posisi struktural, melainkan sebuah “amanah peradaban”.

Bagi Prof. Muhammad, perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab ganda: mencetak generasi yang kompeten secara keilmuan dan kokoh secara moralitas. Ruang-ruang kelas harus mampu menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, penguatan karakter, serta solusi nyata atas berbagai persoalan umat dan bangsa, tanpa kehilangan akar nilai-nilai keindonesiaan dan spiritualitas Islam.

Kapasitas Prof. Muhammad dalam merumuskan visi tersebut tidak lahir secara instan. Visi ini ditempa melalui perjalanan panjang lintas bidang yang memadukan kedisiplinan akademik, kepemimpinan institusi, dan pengabdian sosial.

Rekam jejak akademiknya merupakan potret dedikasi yang luar biasa. Ia dikenal luas atas kedisiplinannya memecahkan rekor sebagai doktor ekonomi tercepat di Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) pada masanya. Ia merampungkan studi doktoralnya hanya dalam waktu 26 bulan dan meraih gelar tersebut pada usia 34 tahun (2006). Sebelumnya, program Magister Agama bidang Ekonomi Islam di Universitas Muhammadiyah Malang pun diselesaikannya dalam waktu kilat, yakni 16 bulan.

Dalam ranah manajerial, kepemimpinannya telah teruji sejak memegang posisi strategis sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik FAI Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (2001–2005). Kiprahnya berlanjut di STAIN Palangka Raya (kini IAIN) sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Islam (2006–2009) yang sukses menjadikan prodi tersebut sebagai pusat kajian ekonomi syariah yang diperhitungkan di Kalimantan.

Saat dipercaya sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) pada 2009–2013, Prof. Muhammad mendorong transformasi nyata. Ia mengarahkan riset-riset kampus agar turun langsung menjawab tantangan masyarakat, mulai dari pemberdayaan desa hingga penguatan moderasi beragama.

Di tengah arus disrupsi yang kerap mengasingkan kaum intelektual, Prof. Muhammad tak pernah membiarkan dirinya terkurung di balik tebalnya tembok akademik. Ia memilih turun gelanggang, membangun ruang kolaborasi yang mempertemukan pemikiran kampus dengan denyut nadi masyarakat. Kepiawaiannya menjalin komunikasi lintas batas ini membuatnya dikenal sebagai “The Rising Star” di Kalimantan Tengah.

Layar televisi menjadi salah satu medium pengabdiannya. Sepanjang tahun 2012 hingga 2014, wajahnya rutin menyapa warga melalui siaran TVRI Palangka Raya sebagai host Dialog Publik Bidang Sosial-Keagamaan. Ia tidak hadir dengan kening berkerut khas akademisi yang menggurui, melainkan dengan senyum hangat seorang pendidik publik. Dari lisan dan pemikirannya, lahir narasi-narasi keagamaan yang dialogis, sejuk, dan membumi.

Kegelisahannya terhadap realitas sosial juga melampaui batas studio televisi. Menyadari adanya perubahan dinamis dalam ekonomi umat, ia tak tinggal diam. Prof. Muhammad mengambil peran sebagai salah satu perintis berdirinya Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) wilayah Kalimantan Tengah. Lewat langkah progresif ini, ia memastikan bahwa sistem ekonomi Islam bukan sekadar wacana di ruang kuliah, melainkan gagasan yang diimplementasikan untuk kesejahteraan masyarakat luas.

Integritas intelektual dan independensi moralnya perlahan membawa Prof. Muhammad ke arena yang lebih krusial: panggung demokrasi lokal. Ia dipercaya menjadi pengawal jalannya pemilihan umum melalui perannya di Tim Seleksi Calon Anggota KPU Provinsi Kalteng (2008–2012). Di panggung debat terbuka Pilkada, kehadirannya sebagai panelis selalu dinanti sekaligus disegani. Pertanyaan-pertanyaannya kerap menembus jantung persoalan—menguliti visi ekonomi kerakyatan hingga tata kelola pemerintahan—memastikan roda demokrasi daerah tetap berjalan pada poros kesejahteraan rakyat.

Namun, seluruh pencapaian gemilang di ruang publik itu mungkin tidak akan memiliki ruh jika bukan karena sebuah keteladanan moral yang ia letakkan di persimpangan jalan masa lalunya. Bagi Prof. Muhammad, hal paling fundamental yang harus diwariskan kepada generasi muda bukanlah rentetan gelar, melainkan integritas dan tanggung jawab.

Suatu masa, gerbang menuju panggung akademik global telah terbuka lebar untuknya. Surat penerimaan studi doktoral dari International Islamic University Malaysia sudah di genggaman. Cita-citanya untuk menaklukkan dunia pendidikan luar negeri tinggal selangkah lagi.

Namun, takdir dan nurani memintanya memilih. Di saat yang bersamaan, sang istri, Dra. Nuryani, tengah mengandung buah hati mereka.

Di titik persimpangan itulah, keluhuran budinya diuji. Ia memilih membatalkan tiket keberangkatannya dan menanggalkan ambisi global tersebut demi mendampingi sang istri. Bertahan dan merampungkan studi doktoral di dalam negeri menjadi saksi bisu dari prinsip hidupnya yang tak bisa ditawar: bahwa cinta, keluarga, dan tanggung jawab moral adalah pilar utama yang tak boleh diruntuhkan hanya demi memburu ambisi pribadi.

Kini, di era di mana kepemimpinan sering kali hanya diukur dari kecakapan administratif dan pencapaian angka-angka metrik, sosok Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag., hadir menawarkan paradigma yang jauh lebih utuh. Perpaduan antara kematangan akademik, keluwesan merangkul masyarakat, dan keteguhan moral telah melahirkan karakter kepemimpinan yang adaptif sekaligus menenangkan. Di tangannya, pendidikan tinggi Islam memiliki kompas yang jelas untuk melangkah mantap, menavigasi arus disrupsi global tanpa kehilangan jati diri.