TANGERANGBERKABAR.CO.ID – Kepolisian Resort Kota (Polresta) Tangerang memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa pembacokan yang menimpa seorang remaja berinisial SA alias DN di Perumahan Taman Adiyasa, Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Jumat (24/4). Polisi memastikan insiden yang mengakibatkan korban kehilangan dua ruas jari tersebut bukanlah serangan geng motor, melainkan aksi tawuran antar kelompok.
Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal (Wakasat Reskrim) Polresta Tangerang, AKP Maskuri, mengungkapkan bahwa fakta ini terungkap setelah tim gabungan dari Polda Banten dan Polresta Tangerang melakukan penyelidikan mendalam serta memeriksa saksi kunci.
Misteri di balik peristiwa berdarah ini mulai terkuak saat polisi menelusuri pergerakan korban sebelum insiden terjadi. Sore itu, SA alias DN diketahui menjemput 12 rekannya menggunakan enam sepeda motor. Kelompok ini sempat berkumpul di kawasan Perumahan Argo Subur, Desa Pasanggrahan, untuk mematangkan persiapan.
Sekitar pukul 18.00 WIB, suasana berubah mencekam saat rombongan ini mulai bertolak menuju Perumahan Taman Adiyasa. DN dan kawan-kawannya tidak datang dengan tangan kosong; mereka mempersiapkan diri dengan dua bilah senjata tajam jenis parang dan celurit corbek untuk menghadapi lawan.
“Kami meluruskan bahwa ini bukan aksi geng motor. Hasil penyelidikan memastikan bahwa kejadian itu murni tawuran antarkelompok remaja,” jelas Maskuri.
Setibanya di lokasi kejadian (TKP), DN bersama kelompoknya ternyata sudah disambut oleh pihak lawan yang telah siaga dengan kekuatan seimbang. Tanpa banyak kata, bentrokan antar kedua kelompok pecah di tengah pemukiman warga. Perkelahian yang awalnya dimaksudkan sebagai ajang pembuktian jati diri tersebut berakhir tragis saat DN menderita luka pembacokan yang cukup parah hingga kehilangan dua ruas jarinya.
Maskuri menjelaskan bahwa motivasi utama para remaja ini adalah untuk menunjukkan eksistensi atau jati diri agar dianggap jagoan di kalangan seusia mereka.
Meski awalnya para saksi sempat bungkam karena takut, polisi berhasil mengendus rencana tawuran melalui jejak digital di media sosial Instagram. Kedua kelompok diketahui sempat berkomunikasi untuk membuat janji tawuran dan bahkan menyiarkannya secara langsung (live) saat bentrokan terjadi.
Saat ini, penyidik masih melakukan pendalaman untuk mengidentifikasi seluruh pelaku yang terlibat, termasuk pihak lawan yang dikabarkan juga mengalami luka-luka namun identitasnya belum diketahui.
“Di sekitar TKP memang minim kamera CCTV. Namun, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) serta Dinas Perhubungan setempat untuk melacak jejak para pelaku. Kami optimis kasus ini segera terungkap sepenuhnya,” tegas Maskuri.
Sebelumnya, korban DN sempat dilarikan ke klinik di daerah Maja, Lebak, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Balaraja untuk penanganan medis lebih lanjut akibat luka berat pada bagian jari.
(Der)


Tinggalkan Balasan