TANGERANGBERKABAR.CO.ID, PONTIANAK — Pendidikan tinggi sering kali terjebak dalam rutinitas tembok ruang kuliah dan tumpukan jurnal ilmiah. Namun, bagi Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag., kampus adalah sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kawah candradimuka tempat peradaban dan ketahanan masyarakat dibentuk.

Kini, sosok akademisi senior yang matang oleh pengalaman itu tengah bersiap membawa visi besarnya ke tanah Khatulistiwa, sebagai Calon Rektor IAIN Pontianak periode 2026–2030.

Lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, pada 24 Mei 1971, perjalanan hidup Prof. Muhammad Said adalah perpaduan antara ketekunan intelektual dan keberanian mengambil peran. Jauh sebelum mengabdi sebagai Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kepingan sejarah terpentingnya justru diukir di tanah Kalimantan, tepatnya di IAIN Palangka Raya.

Mengabdi sejak tahun 2000 hingga 2021 di Bumi Tambun Bungai bukanlah sebuah fase yang singkat. Di saat banyak akademisi mungkin memilih zona nyaman, Prof. Muhammad memilih jalan sepi perintis.

Dedikasi itu terbayar tuntas bukan hanya bagi dirinya, tetapi bagi marwah institusi. Pada tahun 2006, ia mencatatkan namanya dalam tinta emas kampus tersebut sebagai Doktor Pertama. Tidak berhenti di situ, delapan tahun kemudian, pada 2014, ia kembali mendobrak batas dengan menjadi Profesor Pertama di IAIN Palangka Raya.

Capaian ganda ini bukan sekadar deretan gelar yang menempel di belakang dan depan namanya. Lebih dari itu, pencapaian tersebut menjadi simbol kebangkitan kapasitas kelembagaan pendidikan Islam di daerah, membuktikan bahwa perguruan tinggi di luar Pulau Jawa mampu melahirkan pemikir kelas wahid.

Kelebihan utama Prof. Muhammad Said terletak pada perspektif keilmuannya yang menolak terkungkung di menara gading. Ia sadar, ilmu agama dan akademik harus membumi, menjawab persoalan perut dan hajat hidup orang banyak.

Pemikiran inilah yang membawanya terjun langsung ke ranah kebijakan publik. Kapasitasnya diakui hingga ia dipercaya memegang kendali sebagai Ketua Departemen Bidang Ekonomi dan Ketahanan Pangan pada Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Kalimantan Tengah, serta Sekretaris DRD Kota Palangka Raya.

Di forum-forum strategis inilah sang akademisi bertransformasi menjadi teknokrat gagasan. Ia menjembatani rumitnya teori ekonomi dan sosial dengan kebutuhan nyata pembangunan daerah—mulai dari penguatan ekonomi masyarakat hingga optimalisasi potensi lokal yang berbasis riset.

Di balik sosoknya yang sibuk di ranah publik, Prof. Muhammad adalah seorang ayah yang menjadikan keluarga sebagai laboratorium pendidikan pertamanya. Mempersunting seorang putri Bugis asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada tahun 2002, keluarga ini menjadi potret miniatur Indonesia yang kaya akan keragaman budaya.

Ketekunannya dalam dunia pendidikan tercermin jelas pada ketiga putranya yang kini seluruhnya ditempa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Anak sulungnya, Ridhani Ulil Ilmi (21), kini berada di tahun akhir studi Hubungan Internasional; Rif’an Ilman Nafi’an (19) mendalami Ilmu Politik; sementara si bungsu, Haikal Fajrul Ulum, tengah merintis jalan di Fakultas Syariah dan Hukum.

Kini, dengan bekal tradisi keilmuan Islam yang kuat, wawasan kebangsaan yang moderat, dan rekam jejak yang menjembatani dunia akademik serta kebijakan publik, Prof. Muhammad Said menatap amanah baru.

Pencalonannya sebagai Rektor IAIN Pontianak 2026–2030 bukan sekadar kompetisi karir akademik, melainkan sebuah panggilan pengabdian. Jika kelak dipercaya memimpin, rekam jejak panjangnya menjadi jaminan bahwa IAIN Pontianak tidak hanya akan melahirkan lulusan pembawa ijazah, tetapi melahirkan arsitek-arsitek peradaban baru bagi kemajuan Kalimantan Barat dan Indonesia.

(Der)