TANGERANGBERKABAR.CO.ID – Suasana hangat menyelimuti saung pertemuan Taruna Tani Milenial hari ini. Sejumlah siswa-siswi dari SMPN 3 Tigaraksa berkunjung dalam rangka tugas wawancara lapangan. Meski berasal dari desa tetangga, para siswa ini sengaja datang jauh-jauh untuk menggali informasi langsung mengenai pemberdayaan tani dan ketahanan pangan di tingkat desa.

IMG 20260415 WA0000

Kunjungan ini merupakan bagian dari tugas sekolah yang mengharuskan mereka memahami realita dunia pertanian modern yang kini mulai digandrungi anak muda. Kehadiran mereka disambut langsung oleh para penggerak di lokasi Poktan Tani milemial Al-Prakarsa.

Satria, selaku Ketua Taruna Tani Milenial, menyambut positif rasa ingin tahu para siswa tersebut. Menurutnya, edukasi pertanian harus dimulai sejak dini agar generasi muda tidak merasa asing dengan tanahnya sendiri.

“Kami sangat senang dan terbuka menerima adik-adik dari SMPN 3 Tigaraksa. Ini membuktikan bahwa dunia pertanian mulai dilirik lagi oleh anak muda, bukan hanya sebagai profesi, tapi sebagai wawasan penting tentang bagaimana kita mandiri secara pangan,” ujar Satria.

Ia juga menambahkan bahwa Taruna Tani Milenial memang didesain untuk menjadi wadah belajar bagi siapa saja, termasuk pelajar.

“Tadi mereka banyak bertanya soal bagaimana cara memulai, apa itu bibit unggul, hingga pelepasan bibit ikan lele yang kami lakukan di sini. Harapannya, setelah wawancara ini, mereka pulang membawa pemahaman baru: bahwa bertani itu keren dan inovatif,” tutupnya.

Bukan sekadar wawancara formal, kunjungan para siswa ini berubah menjadi petualangan edukasi yang seru. Langkah kaki mereka diawali dengan menyusuri Area Pembibitan, di mana mereka melihat langsung titik awal kehidupan tanaman di lokasi penanaman bibit pertama. Di sana, mereka belajar bahwa pertanian modern membutuhkan ketelatenan sejak tunas pertama muncul ke permukaan tanah.

Suasana semakin hidup saat rombongan bergeser ke area Budidaya Perikanan. Di pinggir kolam, para siswa menyaksikan proses pelepasan bibit ikan lele, sebuah simbol nyata dari kemandirian pangan lokal. Gemericik air dan antusiasme siswa saat melihat ribuan bibit ikan tersebut memberikan gambaran bahwa ekosistem pertanian dan perikanan bisa berjalan beriringan secara harmonis.

Puncak dari kunjungan ini berlangsung di bawah keteduhan saung bambu khas Taruna Tani. Sambil menikmati semilir angin, diskusi interaktif mengalir dengan santai. Para siswa tak sungkan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, sementara Satria dan tim berbagi pengalaman tentang jatuh bangun mengelola pertanian milenial.

Pertemuan lintas generasi ini ditutup dengan sesi foto bersama. Di bawah spanduk peresmian, tawa ceria para siswa SMPN 3 Tigaraksa menyatu dengan semangat para penggerak tani, menciptakan sebuah simbol kolaborasi kuat antara generasi milenial dan generasi Z untuk masa depan pertanian di Kabupaten Tangerang yang lebih hijau.

(Der)