TANGERANGBERKABAR.CO.ID – Insiden kecelakaan yang melibatkan anak di bawah umur kembali terjadi di kawasan Alun-Alun Pusat Pemerintahan (Puspem) Tigaraksa. Buntut dari peristiwa tersebut, Founder Geram Grup, Alamsyah, mendesak pihak kepolisian dan pengelola kawasan untuk segera melarang operasional serta penyewaan motor mini berbahan bakar bensin yang menargetkan anak-anak.
Desakan tegas ini disampaikan Alamsyah setelah dirinya menyaksikan langsung kecelakaan nahas yang menimpa dua bocah perempuan—kakak beradik berusia 9 dan 5 tahun—pada Minggu malam sekitar pukul 21.20 WIB. Keduanya terjatuh saat mengendarai motor mini sewaan di tengah kerumunan pengunjung alun-alun yang sedang padat.
“Kejadiannya sangat cepat. Saat itu sang kakak mengendarai motor mini bersama adiknya. Tiba-tiba tuas gas tertarik oleh sang adik, sehingga kendaraan melesat dengan kecepatan tinggi dan hilang kendali,” ungkap Alamsyah.
Akibat insiden tersebut, kedua korban terjatuh dengan wajah menghantam kerasnya paving block. Sang adik yang baru berusia 5 tahun dilaporkan mengalami luka serius di bagian wajah hingga mengeluarkan darah dari mulut. Peristiwa tragis ini sontak memicu kepanikan para pengunjung yang berada di sekitar lokasi.
Ironisnya, setelah kecelakaan terjadi, pihak penyedia jasa sewa motor mini justru melontarkan pengakuan yang mengejutkan. Mereka mengakui bahwa insiden serupa bukanlah yang pertama kali dan sudah beberapa kali memakan korban.
Pernyataan tersebut membuat Alamsyah semakin prihatin sekaligus geram. “Jika memang sudah sering memakan korban, mengapa aktivitas penyewaan kendaraan ini masih dibiarkan beroperasi? Ini dilakukan tanpa pengawasan dan sama sekali tidak memenuhi standar keselamatan,” tegasnya. Saking khawatirnya melihat kondisi alun-alun malam itu, Alamsyah bahkan langsung memutuskan untuk membawa pulang anak-anaknya.
Menurut pantauannya, sejak awal tiba di lokasi, kawasan alun-alun memang dipenuhi oleh anak-anak usia dini yang memacu motor mini bensin dengan kecepatan tinggi. Hal ini dinilai sangat mengancam keselamatan pengunjung lain, mengingat area tersebut dipadati oleh pejalan kaki dan keluarga.
Melihat tingginya risiko fatalitas, Geram Grup menilai keselamatan masyarakat—terutama anak-anak—harus diletakkan di atas kepentingan ekonomi para penyedia jasa sewa.
Alamsyah mendesak kepolisian dan pihak pengelola Alun-Alun Puspem Tigaraksa untuk tidak tutup mata dan segera mengambil tindakan tegas. Ia juga menyoroti tidak adanya penyediaan perlengkapan keselamatan standar dari pihak penyewa, seperti helm maupun pelindung lutut.
“Kami minta evaluasi menyeluruh terhadap seluruh wahana dan aktivitas komersial di kawasan alun-alun. Jangan hanya memikirkan pendapatan semata namun mengabaikan keselamatan. Jangan sampai ada korban yang lebih parah, atau bahkan kehilangan nyawa, baru aparat sibuk melakukan penertiban. Keselamatan harus jadi prioritas utama,” pungkas Alamsyah.
(Der)


Tinggalkan Balasan