TANGERANGBERKABAR.CO.ID – Musim kemarau panjang yang menerjang wilayah Kabupaten Tangerang berdampak serius terhadap sektor pertanian. Pasokan air yang kian terbatas membuat lahan persawahan mengering, mengancam aktivitas tanam, hingga melumpuhkan mata pencaharian para petani lokal.

Kondisi pertanian yang mengering ini melanda di sejumlah daerah di Kabupaten Tangerang, seperti di Desa Jengkol, Kecamatan Kresek, serta Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa. Di wilayah-wilayah tersebut, hamparan sawah yang biasanya hijau kini gersang dan tak lagi dapat diolah secara maksimal.

Kekeringan drastis ini tak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga memaksa sebagian petani untuk membiarkan lahannya menganggur karena keterbatasan pasokan air.

IMG 20261015 WA0023

Dampak dahsyat kemarau panjang dirasakan langsung oleh Kelompok Taruna Tani Milenial Al-Prakarsa. Ketua Kelompok Tani, Satria Agus Putra, mengungkapkan bahwa krisis air di wilayahnya sudah berlangsung selama setengah tahun. Pasokan air dari sumur bor yang selama ini diandalkan kini juga telah mengering.

“Sudah enam bulan ini kekeringan. Tanaman saya banyak yang mati. Sudah berapa bulan lahan vakum dan tidak produktif sama sekali,” kata Satria, Kamis (15/10/2026).

Karena sumur bor tak lagi mengeluarkan air secara optimal, Satria terpaksa menghentikan sebagian besar aktivitas penanaman di lahannya. Saat ini, ia hanya bisa mempertahankan sedikit komoditas dengan menghemat sisa-sisa air yang ada.

“Siap dari sumur bor. Sementara saya stop dulu, jadi hanya ada komoditas yang ditanam sedikit saja. Itu juga sehemat mungkin menggunakan air. Tapi hasilnya ya jauh dari harapan,” pungkasnya.

Kondisi kritis yang dialami para petani akibat kekeringan ini mendapat perhatian serius dari Ketua Umum LSM Geram Banten Indonesia, Alamsyah. Ia mempertanyakan keberadaan, peran, serta langkah nyata Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang dalam mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian.

Menurut Alamsyah, kesulitan petani mendapatkan air untuk mengolah sawah bukanlah persoalan baru di Kabupaten Tangerang, mengingat lahan persawahan banyak yang hanya bisa ditanami saat musim hujan. Seharusnya pemerintah daerah, khususnya dinas yang membidangi pertanian, telah memiliki strategi dan langkah antisipasi yang terukur. Contohnya dengan mengaktifkan kembali saluran-saluran air yang tersumbat dan tertutup timbunan tanah melalui koordinasi aktif dengan dinas terkait, serta memperbanyak bantuan mesin pompa air.

“Jangan sampai Dinas Pertanian hanya terlihat ketika ada kegiatan seremonial, pembagian bantuan, atau panen raya. Justru ketika petani menghadapi kesulitan seperti sekarang, pemerintah harus hadir memberikan solusi nyata,” ucap Alamsyah.

Lebih jauh, Alamsyah menyoroti persoalan lahan persawahan yang berpotensi menjadi tidak produktif akibat keterbatasan air dan kurang optimalnya dukungan infrastruktur pertanian. Apabila dibiarkan berlarut-larut, ia mengkhawatirkan semakin banyak lahan pertanian yang akhirnya menjadi lahan tidur.

“Jangan bicara ketahanan pangan apabila sawah-sawah petani justru dibiarkan mengering. Jangan bicara kesejahteraan petani apabila untuk mendapatkan air saja mereka harus berjuang sendiri. Pemerintah harus hadir dengan tindakan, bukan sekadar janji dan laporan kegiatan,” ujarnya.

Upaya untuk berdiskusi langsung terkait penanganan kekeringan panjang ini sebenarnya telah diajukan melalui surat resmi kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang. Namun, pihak dinas belum memberikan waktu diskusi dengan alasan padatnya agenda kesibukan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tangerang dan agenda lainnya.

Bahkan, staf pada dinas tersebut hanya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan akibat belum tersedianya waktu untuk berdiskusi di tengah situasi krisis yang dihadapi para petani.

Sikap tertutup dan alasan kesibukan agenda daerah tersebut memantik reaksi keras dan sindiran menohok dari Alamsyah. Ia menyinggung langsung tema peringatan HUT Kabupaten Tangerang ke-394, yakni “Terus Bergerak, Semakin Berdampak”.

Menurut Alamsyah, semangat tema HUT tersebut seharusnya diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan untuk meringankan beban masyarakat, khususnya para petani yang sedang dilanda krisis air.

“Slogan HUT Kabupaten Tangerang ke-394 itu kan ‘Terus Bergerak, Semakin Berdampak’. Pertanyaannya, mana geraknya Dinas Pertanian? Apa dampaknya bagi para petani yang sawahnya mengering dan sumur bornya tak berair? Jangan sampai jargon bagus itu hanya gagah di baliho dan acara seremonial, sementara di bawah petani dibiarkan berjuang sendirian,” tegas Alamsyah.